MENULIS ADALAH OBAT TERBAIK


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini saya akan menceritakan sedikit hal yang membuat saya memilih judul "Menulis Adalah Obat Terbaik".






Pertama saya ucapkan terimaksih atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita semua limpahan rahmatnya sehingga saya sebagai penulis bisa menuntaskan tulisan ini dan anda sebagai pengunjungpun  masih diberi kenikmatan yang luar biasa yaitu membaca.

29 juni 2018 saya berencana ingin kembali ke kota dimana saya kuliah, yaitu di Solo atau Surakarta. saya balik karena memang tanggal 2 juli sudah ada jadwal UAS (Ujian Akhir Semester) yang menanti sebagaimana ketentuan kampus setiap tahunnya. Dihari itu saya mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk balik ke Solo, mulai dari pakaian, buku, peralatan ke kampus dan sebagainya. Waktu balik ke Solo saya biasanya berangkat sore dan tiba di lokasi malam hari, tapi ga tahu kenapa saya memilih untuk berangkat pukul 21.00 WIB. Tadinya orang tua melarang soalnya takut kenapa-kenapa dijalan (padahal Jepara - Solo deket), dan akhirnya saya berhasil meyakinkan kedua orang tua saya untuk berangkat pada malam hari. 

Ketika saya memilih berangkat malam hari, yang ada dipikiran saya hanyalah gelap dan dingin. Iyalah, soalnya saya memang lebih suka lewat jalur Semarang - Salatiga daripada Purwodadi - Sragen. Ada beberapa alasan saya memilih jalur Semarang - Salatiga yang jika diukur jaraknya lebih jauh ketimbang jalur Purwodadi - Sragen. 
  • Jalur Semarang - Salatiga lebih ramai
  • Jalannya engga membosankan
  • Memang suka lewat Salatiga ajasih haha
Kembali ke topik..
Karena saya berangkat pukul 9 malam, maka ada kemungkinan bahwa sesampainya di Salatiga adalah pukul 12 malam, dan itu adalah waktu dingin-dinginnya malam. Sayapun memiliki niatan untuk mampir sebentar di Semarang, bermalam disana. Sampai di Semarang saya menghubungi kerabat saya untuk meminta bantuan agar diberitempat untuk tidur, dan alhamdulillah diiyakan.  Saya bergegas menyusul dia dan menginap disana. 


Esoknya pada tanggal 30 juni 2018. Saya masih agak malas malasan, saya masih belum pengen balik ke Solo. Disini saya teringat sesuatu, saya teringat seseorang yang cukup berarti di hidup saya. Panggil saja dia Alma. Dia masih kuliah, seangkatan dengan saya dan dia kuliah di Semarang. Dia adalah mantan saya tapi sampai sekarang masih cukup dekat sebagai teman. Dihari itu saya menghubunginya saya ada niatan bertemu walaupun cuma sebentar, Alma mengiyakan. Kita janjian untuk bertemu pukul 3 sore di kampusnya.

Pukul 3 sore saya sudah berada dilokasi, tapi belum melihat kehadiran seorang Alma, saya tidak tahu halangan apa yang membuatnya terlambat. 30 menit berlalu sayapun masih setia menunggu. Hingga waktu menunjukkan pukul 4 sore saya mulai bosan menunggu. Dan akhirnya Alma menemui saya dengan senyumnya yang seperti biasa. Entah kenapa setiap kali perasaan lelah menunggu seorang Alma, selalu saja langsung hilang dengan melihat senyumnya saja. Saya yang tadinya ingin marah akhirnya ga jadi haha. Disitu kita mengobrol sebentar dan akhirnya memilih untuk pergi ke suatu tempat untuk beli eskrim dan menikmati indahnya senja. Maghrib tiba dan kita berpisah, saya antar Alma kembali ke kost nya. Malam hari saya memutuskan untuk balik Solo besok pagi. Dan saya kembali menghubungi Alma untuk mengajaknya keluar ngopi sebentar, alhamdulillah dia ga keberatan. Saya menjemputnya pukul 8 dan kita berangkat.

Kita turun disalah satu kafe pinggir jalan yang saya tidak tahu itu di daerah mana, Alma yang menunjukkan jalan. Disitu kita mengobrol kesana kemari. Ada hal yang tidak mengenakan, ketika sedang asyik mengobrol saya melihat ponsel Alma berdering menunjukkan seorang laki laki sedang menelfonnya. Saya penasaran, saya berpikir negatif tapi pikiran negatif itu saya buang jauh, karena orang yang di depan saya lebih penting ketimbang egoku sendiri. Kita ngopi sampai hampir  pukul 11 malam. Kita putuskan untuk pulang karena sudah terlalu larut. Dijalan kita sempatkan mampir Alfamart. Aku membelikan Alma minum. Disitu saya memiliki suatu permintaan yaitu ingin Alma kembali menjadi pacarku walaupun cuma 1 hari saja. Saya tidak menyangka, Alma mengiyakan permintaan saya. Sayapun mengantarkannya pulang dan kami pulang dengan perasaan yang berbunga bunga. 300618 adalah tanggal yang tidak pernah saya lupakan haha.

Esoknya saya berpamitan kepada kerabat saya untuk kembali ke Solo. Tak lupa saya mampir sebentar ke kost Alma untuk berpamitan balik ke Solo. Sayapun berangkat ke Solo. 3 jam perjalanan saya akhirnya tiba disolo. Aktivitas biasa saya lakukan hingga hari menjelang malam dan pagi menyapa. Pagi hari saya melakukan kegiatan biasa. Tiba-tiba saya ada keinginan untuk menelfon Alma. Sayapun mengambil ponsel dan menelfonnya. Lama kita berbicara sampai saya menyenggol ke soal laki laki yang menelfonnya kemarin. Saya diberi penjelasan olehnya, saya menerimanya dan saya kembali bertanya. Apa kamu deket sama dia ?. Alma menjawab ya begitulah. Dalam hati rasanya seperti sesak. Tak lama kemudian saya putuskan untuk menutup telfon dari Alma.

Dihari itu saya memilih bungkam, saya memang seperti ini. Ketika merasa sakit, saya lebih memilih diam, memilih untuk menikmati rasa sakit itu sendiri. Hanya dengan menyendiri dan menuliskan semua keresahan itu, rasa sakit itu perlahan berangsur-angsur hilang. Dan beberapa hari setelah itu saya kembali menghubungi Alma dan meminta maaf atas segala ke egoisan yang saya miliki, Alma memakluminya karena dia sudah mengenal saya bertahun tahun lamanya.

Poin yang saya petik disini adalah ketika kita memaksa menghilangkan rasa sakit, justru sakit itu akan makin terasa. Cukup dengan kita membagikan rasa sakit itu, dalam artian kita memiliki wadah atau tempat untuk kita ajak mendengarkan kita, maka segala resah yang kita punya akan membaik dengan sendirinya.

Dan yang saya alami adalah dengan menulis, saya bisa menuangkan segala emosi yang saya punya, menuangkan segala rasa sakit yang saya miliki. Dengan menulis juga saya memperbaiki diri saya sendiri, memposisikan hati saya seperti sediakala. Ini seperti dimana kita bisa melakukan segalnya pada diri kita hanya dengan menulis.  Maka seperti yang saya sebutkan, Menulis adalah Obat Terbaik.


Ya saya rasa cukup sekian postingan hari ini, semoga apa yang saya bagikan ini bisa diambil baiknya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.




Comments